Pagar rumah bangsa kita

Pagar rumah bangsa kita

mata bulan seakan membaca gelisahku
di jazirah rantau
jauh dari aroma ABAHKU yang khas
jauh dari jari gagahnya yang mengajarkanku arti juang
jauh dari bunga mawar di halaman rumah kami
yang disirami OMAKKU dengan cinta
 suara malam menampar rinduku
 akan masa kanak-kanak diayunan manja
 kasih mereka tiada bertepi
 seakan menambah indah senar kalbu
jika esok masih menjelma
ingin rasanya aku berucap,
“Aku tak merantau mak, tapi aku berjuang harumkan namamu
dan nama ibu pertiwi”
dan jika senja masih sabar menungguku
aku akan berkata lagi,
“Abah, anakmu bukan pekerja, tapi pejuang yang membesarkan cita-citamu dan cita-cita bangsa ini”
seperti dulu yang pernah aku ucapkan di hadapanmu
meski aku tahu tak semua orang menyanyikan irama setuju
atas apa yang aku tuju.
untuk Abah, untuk Omak
belum kuduakan jasamu
akan aku harumkan pagar rumah kita dengan pena cinta
seperti doamu dulu,
“menulislah nak hingga akhir hayatmu”

Karya: Muklisin Amsar Al-Bonai
Pekanbaru, 10 Juni 2011

Comments

Popular Posts